Mahkota
yang Hilang oleh : Rani Okta Febriza(09des’12)
Malam
semakin larut, langit tampak begitu
gelap, ditambah udara malam yang dingin kian menusuk kulit keriputnya. Hatinya
bergetar, tubuhnya lemah tak berdaya. Mak inah menghabiskan sisa usianya
seorang diri, menghanyutkan fikirannya terbang bersama dinginnya udara malam
itu.
“waah..
hebat kamu nak, ini baru anak emak.. !! sebagai hadiah dari emak, kita
jalan-jalan ke pantai saja iya..”
Dengan
penuh kelembutan dan kasih sayang mak inah mengajak anak satu-satunya itu
bertamasya di pantai. Suaminya yang telah lama meninggal, membuat mak inah
semakin sayang pada anto anak tunggalnya. Mak inah tidak ingin kehilangan orang
yang sangat dicintainya untuk yang kedua kalinya. Demi membahagiakan anto, mak
inah rela melakukan apa saja demi putra tersayangnya.
“Waah
mak, bagus sekali ombak pantai itu, tampak berkejar-kejaran yah..”
(Tersenyum
emak melihat anto yang tampak kesenangan melihat pemandangan pantai.)
“mak,
kenapa karang itu tidak hancur? padahal ombak selalu menerjangnya dengan keras
dan bertubi-tubi..” (tanya anto pada emak.)
“ya
nak, itulah sebabnya mengapa kita harus bisa sepeti karang di lautan. Meski
diterjang ombak dan badai ia tetap tegar. Jadi.. nanti kalau anto sudah besar
jadi orang yang hebat, yang kuat, yang sabar yah.. meskipun banyak ujian dan
cobaan yang menimpa anto, tapi anto berusaha untuk jadi seperti karang ini,
tetap tegar..” (jelas mak inah kepada buah hatinya.)
“ooohh
gitu ya mak,, iya deh anto mau seperti karang ini, jadi orang hebat, dan kuat,
dengan begitu anto bisa jagain emak terus… ya kan mak? Hehee..”
Bibirnya
yang terlihat sedikit berkerut karena dimakan usia, selintas tersenyum karena
hadir bayang-bayang anto kecil putra tercintanya. Tanpa sadar air mata mak inah
mengalir membasahi pipi nya. Ia menangis merindukan sosok putra tunggalnya.
“
oh anak ku, dimana kini kau berada? Mengapa kau tak pernah temui emak mu? Apa
kau telah lupa pada emak mu nak?” (dalam hati mak inah merintih, bertanya-tanya
keberadaan anto, anaknya.)
Mak
inah terdiam dalam lamunan, sesekali angin berhembus tepat diwajahnya, ia
memejamkan mata sambil membayangkan anaknya, yang hingga kini tak tahu lagi
rupanya sperti apa. Nyanyian jangkrik pun mulai terdengar, seolah menghantarkan
rindunya mak inah pada anto anak sematawayangnya yang kini tak ada lagi kabar
tentangnya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Tok
tok tok…. “ (suara pintu terketuk, mak inah kaget, diam sejenak dan
bertanya-tanya siapa yang datang. Lalu bergegas mak inah untuk membukanya.)
“assalamualaikum
mak?”
“waalaikumslam”
Ternyata
yang datang adalah mira anak kepala desa sebelah yang selalu memperhatikan
tingkah laku mak inah selama ini. Mira penasaran dengan mak inah yang tinggal
sendiri di gubuk reyot nan kumuh. Ia mencoba hadir dikehidupan mak inah yang
selalu sendiri, ia berharap bisa menjadi teman mak inah dalam kesendiriannya,
mejadi penghibur dalam kesedihannya.
“anak
ini siapa? Ada perlu apa sama emak?” (Tanya emak, dengan rasa penasaran dan
curiga)
“tidak
ada apa-apa mak, maaf yah mira ganggu, mira cuma ingin main kesini saja, boleh
mak? Soalnya mira perhatikan dari tadi rumah ini sepi sekali, nampak tak
berpenghuni” (perlahan dan beruntun, mira menjelaskan kepada emak, agar emak
memperkenankan mira)
“oh,
yah, boleh, tak apa-apa.” (sejenak emak berhenti dan mengambil nafas
panjang.) “memang nak , emak hanya
tinggal sendiri disini” (lanjut mak inah mencoba membuka percakapan)
“sendiri
mak? Memangnya anak emak kemana?”(dengan kehati-hatian mira bertanya pada mak
inah)
“anak
emaaak.. tidak ada disini….”(pandangan mak inah jauh melayang, suaranya
perlahan melemah, menahan tangis.. mak inah kembali menerawang, angan-angannya
kembali mengudara menyambut bayangan wajah anto putra mahkotanya)
“anak
emak sekarang sudah jadi sarjana, ia bekerja di salah satu perusahaan ternama
di Jakarta. Saat itu lah ia memulai karirnya.” (emak tersadar dari lamunannya,
kembali mengenalkan anaknya pada mira)
“lalu,
sekarang dimana anto, anak emak?” (mira kembali bertanya dengan suara yang
lembut, berusaha tidak menyinggung hati emak)
“di..dia….di..dia
sekarang tidak pernah kembali pada emak..”(emak mulai meneteskan air matanya
dan tersedu sedan menahan tangis)
“maaf
mak, mira telah membuat emak menangis,,”(menyesal mira bertanya itu pada emak,
karena membuat emak menjatuhkan air matanya)
“tidak
nak, tidak… emak memang merindukan anak emak, yang sudah 15 tahun meninggalkan
emak..”
“waktu
itu…….”(emak mencoba menghadirkan sosok anto pada mira dan bercerita padanya)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kala
itu, pengumuman kelulusan SMA, anto dan emak inah menunggu pembagian amplop
pengumuman kelulusan dari sekolah anto. Tak lama kemudian, anto menerima amplop
itu, dan subhanallah, anto lulus dengan nilai tertinggi serta mendapat beasiswa
kejenjang pendidikan yang lebih tinggi.
“Alhamdulillah….
Mak… mak… mak….!!! Anto lulus…” (betapa girangnya hati anto saat itu, anto
berlari-lari menuju emaknya yang tengah berada di halaman dapur sedang menanam
buah tomat)
“apa
nak? Kamu lulus??”
“iya
mak, anto lulus, sudah gitu anto dapat beasiswa lagi untuk kuliah, karena anto
dapat peringkat satu dan nilai anto paling besar di sekolah, dari sekian banyak
teman-teman anto” (lagi-lagi anto semangat menggebu-gebu, meyakinkan emaknya)
“Alhamdulillah,syukur
kalau begitu nak, kamu hebat nak, dari SD selalu dapat juara. Kamu benar-benar
anak kesayangan emak, putra mahkota emak.”(dengan bangganya mak inah memiliki
anak seperti anto)
“hemm..
bisa saja kamu nak-nak”. (suasana hening sejenak). “Setelah ini kamu mau kuliah
dimana to?, apalagi kamu dapat beasiswa melanjutkan pendidikan?”
“iya
mak, anto mau kuliah, yang jurusannya arsitek mak.” (anto mencoba memberikan
gambaran tentang dunia arsitek pada emaknya, meski emaknya tidak mengerti)
“
nak, kalau kamu jadi kuliah, berarti kamu akan pergi ninggalin emak sendiri disini..”(rasa
cemas menghampiri hati emak, emak takut kehilangan, dan tak mau berpisah dengan
anak kesayangannya)
“ah
emak.. tenang saja, nantikan ada libur kuliah, pasti anto maen kesini, jengukin
emak” (anto menenangkan hati emak)
Akhirnya
saat-saat yang dinantikan anto, yang juga menjadi kecemasan dan kekhawatiran
emak tiba. Anto sibuk mengurus keberangkatan hijrahnya.
“mak
anto pergi yah, doakan anto supaya anto bisa mencapai cita-cita anto”
“
ya nak, emak selalu mendoakan yang terbaik untuk anak emak, kamu baik-baik
disana, belajar yang rajin dan jangan lupakan emak disini..” (tak terasa
deraian air mata emak membanjiri pipinya, dan akhirnya anto pergi melanjutkan
pendidikannya ke Perguruan Tinggi pilihannya).
Read more





